KRITIK RAKYAT BUKAN ANCAMAN!

Budi Arie Setiadi – Ketua Umum Projo
Kritik Rakyat Bukan Ancaman!
Pernyataan itu sebenarnya sangat sederhana: kritik rakyat bukan ancaman.
Pernyataan Ketua umum PROJO Budi Arie Setiadi yang meminta pemerintah bijak merespons kritik publik adalah pengingat penting di tengah iklim politik yang kerap alergi terhadap suara berbeda. Kritik seharusnya dipahami sebagai masukan, bukan serangan.
Dalam sistem demokrasi, kritik bukan sekadar hak ia adalah mekanisme kontrol rakyat terhadap kekuasaan. Tanpa kritik, pemerintah bisa dengan mudah terjebak dalam ruang gema: hanya mendengar pujian dari lingkaran sendiri. Padahal dalam negara demokrasi, partisipasi dan suara masyarakat merupakan bagian penting dari legitimasi pemerintahan.
Masalahnya, dalam praktik politik kita, kritik sering kali disalahpahami. Ketika rakyat bersuara keras di media sosial, turun ke jalan, atau menuntut akuntabilitas, respons yang muncul justru kerap defensif:
dianggap hoaks, provokasi, bahkan ancaman stabilitas.
Padahal sejarah menunjukkan, kemarahan publik biasanya bukan muncul tiba-tiba. Ia adalah akumulasi kekecewaan yang lama dipendam, mulai dari masalah ekonomi, kebijakan yang tidak sensitif terhadap rakyat, hingga jarak yang semakin lebar antara elite dan masyarakat. Fenomena protes besar yang pernah terjadi di Indonesia juga sering dipicu oleh rasa ketidakadilan sosial dan ekonomi yang menumpuk.
Karena itu, kritik seharusnya dilihat sebagai alarm demokrasi. Alarm yang menandakan ada kebijakan yang perlu dievaluasi, ada komunikasi yang perlu diperbaiki, atau ada kepercayaan publik yang mulai terkikis.
Jika pemerintah benar-benar menganggap kritik sebagai masukan, maka langkah berikutnya harus jelas:
mendengar, mengevaluasi, dan memperbaiki.
Jika tidak, pernyataan bahwa kritik adalah “masukan” hanya akan terdengar sebagai retorika yang indah tetapi kosong.
Demokrasi tidak membutuhkan pemerintah yang selalu benar.
Demokrasi membutuhkan pemerintah yang mau mendengar ketika rakyat mengatakan : ada yang salah.
(Kata Bang Saik)
