Artikel “Bencana Dalam Perspektif Sosial Budaya” menyampaikan bahwa bencana alam di Aceh dan Sumatera Utara bukan hanya fenomena geologis atau hidrometeorologis, tetapi juga mencerminkan rapuhnya hubungan manusia dengan alam serta nilai-nilai sosial budaya yang terkikis. Kearifan lokal yang dulu menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan kini sering terpinggirkan oleh praktik eksploitatif, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap bencana. Meskipun begitu, solidaritas sosial seperti gotong‑royong dan bantuan lintas komunitas masih muncul sebagai kekuatan penting dalam respons terhadap bencana. Penulis menekankan bahwa pemulihan sesungguhnya harus melibatkan rekonstruksi sosial dan budaya, bukan sekadar fisik, agar bencana berikutnya dapat dicegah.
Read More