Opini

SORAK SORAI DI SEBERANG KITA DAPAT APA??

Donald & Bowo

Catatan Pojok Bang Saik.

Sorak-Sorai di Seberang, Kita Kebagian Apa?

Pengusaha Amerika bersorak. Trump dipuji habis-habisan.
Katanya, mereka “menang dagang dari RI”.
Kita? Menang apa? Mungkin… menang tepuk tangan.

Konon ini namanya perdagangan timbal balik.
Mereka buka akses ekspor, kita buka pintu pasar.

Bedanya, mereka masuk bawa produk unggulan,
kita masuk bawa… niat baik dan pasar konsumtif.
Lucu juga.

Kalau satu pihak bersorak terlalu keras dalam perjanjian dagang,
biasanya pihak lain sedang terlalu cepat bilang “deal” sebelum membaca catatan kaki.

99% produk mereka bebas hambatan.

Luar biasa!

Saking bebasnya, mungkin nanti petani kita perlu visa untuk bersaing di pasar sendiri.

Daging sapi mereka siap membanjiri.
Peternak lokal? Siap-siap belajar bahasa Inggris:
“Welcome to your own market.”

Ini bukan sekadar dagang.
Ini geopolitik berbalut jargon ekonomi.
Amerika menyebutnya peluang ekspor,
kita menyebutnya keterbukaan pasar.

Bahasa sama, nasib bisa beda.

Trump dielu-elukan sebagai pahlawan industri Amerika.
Masuk akal. Ia memang bekerja untuk “America First”.

Pertanyaannya sederhana:
Di meja perundingan itu, siapa yang benar-benar duduk dengan agenda “Indonesia First”?

Perdagangan bebas itu indah di buku teks.
Di dunia nyata, ia seperti pertandingan tinju:
yang satu datang dengan sarung tangan teknologi, modal, dan subsidi,
yang satu lagi datang dengan semangat dan populasi besar.

Wasitnya? Namanya globalisasi.

Akhirnya kita diingatkan lagi: negara kuat menjual produk, negara berkembang sering kali menjual pasar.
Mereka bersorak menang dagang.
Kita tersenyum ramah
sambil berharap pabrik tetap hidup, petani tetap tanam, dan UMKM tidak sekadar jadi penonton di etalase negeri sendiri.

Perdagangan katanya saling menguntungkan.
Ya, tentu saja.
Pertanyaannya cuma satu:
yang untung besar siapa, yang untung sabar siapa?

(KBS)