Politik

Prabowo 2 Periode, Gibran Dibuang: Politik Ingin Buah, Tapi Cabut Akar

Di panggung politik kita hari ini, genre komedi paling populer adalah Amnesia Kolektif. Sejumlah partai koalisi mulai berani mendeklarasikan dukungan untuk dua periode Prabowo Subianto, namun dengan catatan kaki yang ganjil: “Tanpa Gibran Rakabuming Raka.” Ini bukan sekadar manuver; ini adalah upaya ghosting terhadap sejarah kemenangan sendiri.

Kemenangan Bukan Ruang Hampa

Kemenangan telak satu putaran pada 2024 lalu tidak jatuh dari langit. Ia adalah hasil konvergensi tiga kekuatan besar:

  • Figur Prabowo: Kematangan militer dan kepemimpinan yang stabil.
  • Mesin Partai: Infrastruktur politik yang menjangkau akar rumput.
  • Variabel Gibran & Jokowiism: Magnet pemilih non-partai, milenial, urban, dan militansi relawan seperti PROJO.

Menghapus nama Gibran dari narasi dua periode adalah upaya distorsi sejarah. Elite yang sekarang merasa menjadi “penentu tunggal” tampaknya lupa bahwa Gibran yang dulu mereka sebut “aksesori” adalah justru faktor yang menyedot suara di luar barisan tradisional partai.

Gibran: Gen Pemenang yang Dicoba Disangkal

Dulu, lawan mencibir Gibran sebagai “anak haram konstitusi.” Kini, sebagian kawan justru memposisikannya sebagai “pelengkap penderita.” Padahal, angka di bilik suara tidak pernah berdusta. Ada psikologi pemilih yang kuat di sana—penerimaan terhadap keberlanjutan gaya kepemimpinan Jokowi yang direpresentasikan oleh Gibran.

“Politik yang ingin menuai buah, tapi mencabut akar pohonnya, adalah politik yang sedang merencanakan kegagalannya sendiri.”

Fenomena “Carmuk” dan Ego Sektoral

Menarik melihat bagaimana sebagian elite yang sudah nyaman di kursi kekuasaan mulai merasa seolah-olah kemenangan adalah hasil keringat mereka sendiri. Mereka bahkan lebih “galak” daripada Prabowo. Padahal, Prabowo sendiri menunjukkan kenegarawanan dengan merangkul kompetitor seperti Muhaimin Iskandar ke dalam kabinet.

Ironisnya, saat Prabowo merangkul lawan, sebagian kawan justru sibuk ingin mengerdilkan peran sesama rekan seperjuangan. Ini bukan soal kursi, ini soal etika politik. Tahu diri adalah mata uang yang mulai langka di pasar koalisi hari ini.

Meremehkan Memori Rakyat

Apakah partai-partai ini benar-benar percaya bahwa jaringan relawan dan suara loyalis Jokowi sudah memudar? Rakyat mungkin diam, tapi mereka mencatat dengan rapi:

  • Siapa yang berdarah-darah saat kampanye.
  • Siapa yang baru muncul saat pembagian kursi.
  • Siapa yang setia pada paket kemenangan awal.

Menggoyang keseimbangan paket Prabowo-Gibran bukan sekadar taktik, melainkan perjudian strategis yang amat berisiko.


Jangan Jadi Kawan yang Lupa Diri

Publik tidak butuh drama amnesia. Jika kemarin kemenangan diklaim sebagai kerja kolosal antara figur, partai, dan relawan, maka hari ini jangan pura-pura lupa hanya karena syahwat kursi 2029.

Dalam politik, yang paling cepat ditertawakan rakyat bukanlah lawan yang kalah dengan terhormat, melainkan kawan yang lupa diri setelah menang. Jangan sampai ambisi memisahkan Prabowo dari Gibran justru menjadi bumerang yang meruntuhkan stabilitas yang sudah dibangun dengan susah payah.